Merupakan kepribadian seorang muslim apabila ia senantiasa bersemangat dalam amalan-amalan yang
bermanfaat bagi dirinya. Ia selalu mencari amalan-amalan yang mudah dan memiliki balasan dari Allah
ta’ala yang sangat banyak. Sebagaimana dalam sebuah hadist Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam
yang berbunyi “Mukmin yang kuat lebih dicintai oleh Allah dibandingkan dengan mukmin yang lemah,
dan masing-masing memiliki kebaikannya. Bersemangatlah untuk mengerjakan sesuatu yang
bermanfaat bagi dirimu, serta mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kau lemah!...” (HR.
Muslim).
Di saat kesalahan dalam beragama banyak pihak di negara tercinta ini seiring pula sunnah yang mulia
ini tergeser. Benarlah sebagaimana yang dikatakan seorang ulama besar bahwa setiap satu kebid’ahan
yang muncul akan menghapus satu sunnah yang mulia. Kebanyakan kaum muslimin justru lebih
banyak terjerumus dalam kebid’ahan yang semakin marak dan tumbuh subur, sehingga muncullah
talbis ketika bid’ah dianggap sunnah, dan ketika sunnah itu menjadi sirna ataupun aneh.
Benarlah seperti apa yang dikatakan oleh seorang tabi’in mulia bernama Hassan bin ‘Athiyyah al-
Muharibi rahimahullah yang meneruskan apa yang dikatakan oleh Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu
melalui periwayatan Abul ‘Abbas Al asham ialah: “Tidaklah suatu kaum membuat satu bid’ah (hal
yang baru dalam agama-pen) dalam agama mereka melainkan Allah akan mencabut satu hal yang sama
dari Sunnah mereka, kemudian Dia tidak akan mengembalikan Sunnah tersebut kepada mereka hingga
hari Kiamat.” (HR. Ad Darimi sanadnya shahih dan ada didalam kitab Misykatul Mashabih karya
Muhammad Nashiruddin Al Albani).
Hari jum’at sebagai salah satu hari yang apabila kaum muslimin mengetahui merupakan hari yang
banyak memiliki faidah bagi setiap muslim. Tidak hanya sedikit melainkan banyak balasan yang akan
diberikan oleh Allah berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alayhi wa salam. Sekalipun amalan tersebut
yang berupa sunnah tidak menyita banyak waktu dan tenaga. Banyak rahasia tersembunyi dan harta
karun terpendam bagi seorang muslim seandainya mereka mau sedikit berusaha tuk mencari keutamaan
dan amalan-amalan berbuah hebat di hari jum’at ini selain shalat jum’at yang diwajibkan bagi laki-laki.
Atau para ‘ulama menyebutkan bagi hari jum’at nama tersendiri yaitu sayyidul ayyam.
Ada beberapa amalan jum’at yang dapat kembali dihidupkan ditengah kaum muslimin saat ini. Sunnah-
sunnah yang sangat mulia dimana para sahabat radhiyalohu anhum sangat antusias dalam
menjalaninya. Diantaranya ialah:
Memperbanyak shalawat kepada Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, sebagaimana dalam sebuah
hadist, Dari Aus bin Aus radhiyallohu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya diantara hari-harimu yang paling afdhal ialah hari Jum’at, pada hari itu (Nabi) Adam
diciptakan, pada hari itu nyawanya dicabut, pada hari itu sangkakala ditiup, dan pada hari itu (pula)
kiamat besar terjadi. Oleh karena itu, perbanyaklah shalawat untukku pada hari itu, karena shalawatmu
akan ditampakkan kepadaku. “Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah bagaimana (mungkin) shalawat
kami ditujukan kepadamu, padahal engkau sudah berbentuk tulang belulang?” Maka sabda beliau,
“Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla telah mengharamkan tanah memakan jasad para Nabi.” (HR. Ibnu
Majah dan An Nasa’i)
Dalam hadist yang lain Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Perbanyaklah oleh kamu
shalawat kepadaku pada hari Jum’at dan malam Jum’at, karena barangsiapa yang bershalawat
kepadaku satu kali (shalawat saja), niscaya Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR.
Baihaqi dan dihasankan oleh Syaikh Albani).
Adapun shalawat yang diperintahkan ialah sebagaimana yang dibaca ketika tahiyat akhir dalam shalat.
Shalawat pun dibaca secara sendiri-sendiri bukan berjama’ah sebagaimana hal ini banyak terjadi di
banyak masjid kaum muslimin setiap akan memulai shalat Jum’at dengan menggunakan speaker dan
dipimpin oleh seseorang.
Sunnah yang lain dihari Jum’at ialah hendaklah bagi setiap muslim untuk membaca Surat Al Kahfi,
sebagaimana dalam sebuah hadist dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallohu ‘anhu bahwasanya rasulullah
shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, niscaya
bacaan tersebut menjadi cahaya baginya yang meneranginya antara dua Jum’at.” (HR. Hakim dan
Baihaqi dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’us Shaghir). Bahkan dimalam Jum’at
pun diperbolehkan sebagaimana pendapat beberapa fuqaha diantaranya pemuka madzhab syafi’iyah yaitu Al Imam Asy Syafi’i. Maka hendaklah ia mengambil hadist ini sebagai hujjah mereka-mereka
yang seringkali melakukan kebid’ahan dengan imbuhan –an seperti yasinan dan tahlilan. –wallahu
‘alam-
Memperbanyak do’a disaat waktu yang dikabulkan sebagaiman dalam sebuah hadist dari Jabir
radhiyallohu ‘anhu bahwasanya rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Hari Jum’at terdiri
atas dua belas jam setiap hamba muslim memohon apapun kepada Allah azza wa jalla pada hari itu,
pasti Dia memenuhi permohonannya, karena itu carilah kesempatan emas tersebut pada akhir waktu
sesudah shalat Ashar.” (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al Hakim juga diriwayatkan oleh Muslim
II:584 no: 853).
Dan tentunya bagi seorang laki-laki ada sunnah yang lain yaitu shalat sunnah intidzhar (semampunya)
dan shalat sunnah sesudah Jum’at, sebagaimana dalam sebuah hadist dari Abu Hurairah radhiyallohu
‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang mandi besar
(seluruh tubuh) pada hari Jum’at, lalu kemudian datang (ke masjid untuk) shalat Jum’at, lalu ia shalat
semampunya, kemudian ia mendengarkan khutbah dengan seksama hingga selesai khutbahnya, lalu ia
shalat Jum’at dengannya, niscaya ndiampunilah baginya akan dosa-dosa yang terjadi antara Jum’at itu
dengan Jum’at yang lain ditambah tiga hari.” (HR. Muslim).
Tidak ada qabliyah Jum’at sebagaimana yang dikerjakan oleh banyak kaum muslimi saat ini. Dimana
ketika adzan dikumandangkan maka mereka berbondong-bondong untuk melaksanakan shalat qabliyah
Jum’at. Mengenai hal ini Al Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah memberikan penegasan, “Bahwa Nabi
shalallahu ‘alayhi wa sallam apabila Bilal selesai mengumandangkan adzan, beliau langsung memulai
berkhutbahnya, tidak seorang pun yang berdiri mengerjakan shalat dua rakaat, sama sekali tidak ada,
dan adzan hanya sekali. Kemudian, kapan mereka akan shalat sunnah qabliyah Jum’at? (Zaadul Ma’ad
fii Hadyi Khairil Ibaad I : 118)
Sedangkan dengan shalat sunnah sesudahnya terdapat hadist dari Abu Hurairah radhiyallohu ‘anhu
bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang diantara kamu
akan shalat Jum’at, maka shalatlah sesudahnya empat raka’at.” (HR. Muslim), dan hal ini bisa
dilakukan baginya dua rakaat dirumah maupun dua rakaat di masjid. Sebagaimana dijelaskan Ibnu
Umar radhiyalllohu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam tidak shalat dua rakaat seusai
shalat Jum’at hingga beliau pulang, lalu shalat dua rakaat dirumahnya. (HR. Muttafaqun ‘alaih).
Maka merupakan sebuah kebaikan bagi setiap muslimin dan muslimat untuk segera bergegas
melaksanakan sunnah yang mulia ini, sebuah amalan hebat di hari Jum’at dengan banyak manfaat.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar